Belajar Bijak Dari Kehidupan Seekor Kura – Kura

Tak dapat dipungkiri, andai setiap orang bakal mempunyai rasa cemas dan pun rasa fobia di dalam diri mereka. Hal ini tentunya paling manusiawi, sekitar perasaan seperti tersebut masih terdapat dalam batas yang wajar.Maka dari itu berajarlah motivasi hidup dari seekor kura kura.

Namun pada kenyataannya, rasa cemas dan rasa fobia ini sering berlebihan dan begitu besar pada sejumlah orang, sampai-sampai sering menjadi masalah yang mengganggu. Jika telah begini, maka sebanyak masalah yang tidak begitu penting, akan tidak jarang timbul. Bukan hanya untuk orang tersebut sendiri, namun untuk orang beda di lingkungannya juga, baik tersebut keluarga atau bahkan teman-temannya.

Hal berikut yang semenjak lama menjadi masalah untuk Utami, seorang ibu muda yang sudah mempunyai seorang balita berumur 3 tahun.

 

Hindari Kekhawatiran yang Berlebihan

Sejak dulu, Utami tidak jarang kali menghawatirkan tidak sedikit hal, bahkan yang oleh beberapa orang dirasakan tidak butuh sekalipun. Utami takut ketika tinggal di lokasi tinggal sendirian, tetapi takut dan khawatir pun saat meninggalkan lokasi tinggal dalam situasi kosong dan tidak terdapat yang menunggui. Aneh bukan? Sementara di luar sana terdapat ribuan lokasi tinggal yang sering kosong masing-masing harinya dan ditinggal pergi penghuninya ketika bekerja.

Pada awalnya, oleh keluarga urusan ini dirasakan wajar dan bakal hilang seiring dengan berlalunya waktu. Utami beranjak dewasa, telah berdikari dan bekerja pada suatu perusahaan ternama, tetapi perasaan fobia dan cemas yang dimilikinya tak kunjung reda.

Beberapa tahun lantas Utami menikah, tetapi rasa cemas dan rasa takutnya bakal kedua urusan itu tidak kunjung hilang. Hal ini sering menjadi masalah, terutama ketika Utami dan family kecilnya bepergian dan meninggalkan rumah.

Meski di lokasi tinggal mereka mempunyai seorang asisten lokasi tinggal tangga, Utami bakal tetap meminta adik atau kakaknya guna tinggal sedangkan di lokasi tinggal mereka ketika Utami sekeluarga mesti pergi dan menginap di luar kota.

Hal ini dilangsungkan terus-menerus dan menciptakan kakak dan adiknya pun merasa kerepotan, mengingat nyaris setiap bulan Utami bepergian guna urusan bisnis dan yang lainnya. Suaminya pun menyadari urusan ini dan mulai memikirkan teknik untuk menanggulangi segala sesuatunya.

Siang itu, Utami, suami dan anaknya bakal segera berangkat ke Bali guna berlibur sekitar 2 hari di sana. Semua persiapan sudah dilakukan, tergolong “memesan” adiknya untuk bermukim di lokasi tinggal dan mendampingi asisten lokasi tinggal tangga sekitar mereka berlibur nanti.

Adiknya mengiyakan dan sudah tiba sesaat sebelum Utami berangkat. Utami berangkat dan merasakan liburan dengan tenang, meskipun sesekali ia tetap menelepon adiknya dan menanyakan situasi rumah.

Tidak sesering dulu Utami memeriksa rumah, karena ia sudah berjanji pada suaminya untuk meminimalisir semua rasa khawatirnya yang berlebihan itu.

Semua berjalan fasih selama liburan, sampai tiba waktunya family kecil tersebut kembali ke ibukota lagi. Utami senang, begitu pun dengan suami dan anaknya. Namun rasa cemas segera datang, ketika Utami mengupayakan mengetuk pintu dan tak seorangpun membukakannya.

5 menit sudah berlalu, Utami terlihat semakin resah dan tak henti-hentinya menelepon adik dan asisten lokasi tinggal tangganya. Utami terlihat lega saat menyaksikan mobil adiknya menginjak halaman lokasi tinggal mereka, tetapi ia keheranan saat melihat asisten lokasi tinggal tangganya ke luar dari mobil seraya menenteng suatu tas.

“Kita mesti belajar dari kura-kura yang selalu membawa serta lokasi tinggal di pundaknya, bukankah dia berlangsung begitu lambat dan tidak jarang tampak kelelahan?” ujar suaminya seraya tersenyum.

Di luar pengetahuan Utami, suaminya sudah meminta asisten lokasi tinggal tangganya untuk libur dan pulang dusun selama mereka berlibur, dan adik iparnya tak butuh menunggui lokasi tinggal mereka sekitar 24 jam, lumayan dicek sekali sehari saja.

Biarkan satpam mengerjakan tugasnya dan menjaga ketenteraman rumah yang kosong. Pada tadinya Utami marah dan tidak setuju dengan apa yang telah dilaksanakan oleh suaminya, tetapi lama-kelamaan wanita tersebut mulai memahami bahwa tidak seluruh hal butuh ditakutkan dan dikhawatirkan dengan berlebihan.

Pelajaran yang bisa di petik dari kisah motivasi yang satu ini ialah kita dapat belajar arif dalam merasakan kehidupan kita. Jangan terpaku dengan kekhawatiran yang berlebihan, sebab khawatir yang berlebihan tidak bakal membuat anda dapat merasakan hidup dengan baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *